Home Artikel Keunggulan Ekonomi Islam dalam Masa Krisis

Keunggulan Ekonomi Islam dalam Masa Krisis

Keunggulan Ekonomi Islam dalam Masa Krisis

 

Oleh: Agus Irwanto

Dosen STIE Kebangsaan Bireuen


 

ABSTRAKS

Islam adalah agama bersifat Universal dan konprehensif. Memuat aturan-aturan yang kompleks dan sempurna sehingga tidak mengenal adanya perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat jelata, namun yang menjadi ukuran adalah ketakwaan seseorang. Semua aspek yang di atur dalam Islam wajib kita jalankan. Tidak hanya masalah kegiatan spiritual, namun mu`amalah pun harus kita jalankan sesuai tuntutan syariah. Ekonomi Islam, yang merupakan bidang mu`amalah, akan dapat membawa manusia kepada kemakmuran dan keadilan. Sekian lama kita larut dalam praktek riba dan tindakan-tindakan yang tidak sesuai syariah. Sehingga krisis moneter, krisis Global, krisis Ekonomi mengguncang dunia dan sampai hari ini tidak ada solusinya. Sistem Ekonomi Kapitalis dan Sosialis, tidak dapat mengatasi masalah ekonomi yang timbul. Malah ketimpangan sosial dan ketimpangan pendapatan semakin tinggi.  Oleh karena itu, munculnya sistem ekonomi Islam, yang bersumber dari pencipta alam beserta isinya termasuk manusia. Dengan landasan nilai-nilai illahiah, ekonomi Islam akan membawa kita kepada kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Kata Kunci :  Ekonomi Islam, Mu’amalah, Al Qur`an

 

 

1. Pendahuluan

Islam adalah agama yang universal  dan komprehensif. Artinya Islam diperuntukkan bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini dan dapat diaplikasikan dalam setiap waktu, karena Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tidak hanya aspek spriritual saja namun  juga aspek mu’ammalah yang mencakup antara lain sosial, politik, hukum dan ekonomi.

Kesempurnaan Islam telah ditegaskan dalam Al-Qur’an (Surat Al-Maidah ayat 3). Oleh karenanya, sebagai umat Islam kita harus   menyakini   tentang kesempurnaan ajaran Islam. Bahkan seorang Oreantalis terkenal bernama H.A.R.Gibb menyatakan “Islam is much more than a sytem of theologits a complete civilization “ ( Islam bukan hanya sistem teologi semata’ namun merupakan suatu peradaban yang lengkap).

Adalah hal yang sangat tidak relevan jika memandang  Islam  hanya  sebagai agama ritual saja, terlebih lagi menganggap sebagai penghambat kemajuan.

Sebagai ajaran yang komprehensif, Islam meliputi tiga pokok ajaran, yaitu Aqidah, Syariah dan Akhlak. Hubungan antara ketiganya terjalin sedemikian erat sehingga merupakan sebuah sistem yang komprehensif. Dalam bidang syariah Islam terbagi kepada kedua macam, yaitu ibadah dan mua’malah. Ibadah dilakukan untuk menjaga ketaatan dan keharmonisan hubu-ngan hamba dengan dengan khaliqnya.

Ibadah merupakan media untuk mengingatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Sedangkan mu’amalat diturun-kan sebagai rule of the game atau aturan-aturan main bagi manusia dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi.

Mu’amalah dalam pengertian umum dapat dipahami sebagai aturan mengenai hubungan antara manusia, sedangkan pengertian khusus dipahami sebagai aturan-aturan Islam tentang ekonomi.  Terlebih  di abad ini pengertian mu`amalah selalu dipahami sebagai ajaran Islam tentang ekonomi.

Ekonomi Islam dewasa  ini menjadi sebuah realitas “ baru “ dalam dunia ilmiah modern. Dalam lima dekade terakhir, eko-nomi Islam terus tumbuh dan berkembang di antara sistem sosialis atau kapitalis dan sistem ekonomi konvensional yang  sangat sekuler. Ekonomi Islam dikatakan “baru” karena sesungguhnya ekonomi berbasis syariah ini sudah pernah dijalankan secara sempurna dimasa Rasulullah dan masa keemasan Daulah Islamiyah beberapa abad lalu.

Ekonomi Islam, baik sebagai sistem maupun ilmu kembali lahir pada masa perang dingin antara dua super power yaitu Amerika serikat dan Uni Soviet.  Dua blok ini merupakan representasi dari paham kapitalisme yang diwakili oleh AS dan paham sosialisme yang diwakili oleh Uni Soviet. Ditengah kekuatan kapitalis dan sosialis inilah ekonomi Islam memberikan jawaban atas ketidakadilan dan ketidak makmuran yang dihasilkan oleh sistem kapitalis maupun sosialisme.

Namun haruslah diyakini ekonomi Islam bukanlah hadir sebagai reaksi terhadap dominasi kapitalisme maupun sosialisme. Tapi ekonomi Islam hadir sebagai bagian dari totalitas kesempurnaan Islam itu sendiri. Umat Islam harus mewujudkan ke-Islamannya dalam berbagai aspek kehi-dupan. Karena umat Islam memiliki sistem ekonomi yang telah di atur dalam Al Qur`an dan As Sunnah.

Sebagai umat Islam, sangat wajar jika melakukan aktivitas-aktivitas ekonomi sesu-ai dengan aturan dan kaidah Islam. Karena Islam tidak hanya mengurusi masalah ukhrawi saja, akan tetapi Islam juga me-ngatur  dan mengurusi masalah kehidupan duniawi. Karena itu, sistem ekonomi yang mengantarkan umatnya kepada kesejahte-raan yang sebenarnya yaitu kesejahteraan yang tidak hanya terpenuhi kebutuhan jasmani tetapi juga kebutuhan rohani.

Bila kita lihat perkembangan ilmu modern, ekonomi Islam masih dalam tahap pengembangan. Hal ini terjadi karena ekonomi  Islam baik sebagai sistem maupun ilmu telah ditinggalkan umatnya dengan sangat lama. Hal ini terjadi karena kolonialisasi negara-negara Islam oleh penjajah dan upaya sistematis dari orienta-

lis memisahkan Islam dari ekonomi. Ekono-mi Islam memilki sifat dasar sebagai ekonomi Rabbani dan Insani. Artinya penuh dengan arahan  dan nilai-nilai illahiah yang dalam prakteknya ditujukan untuk kemakmuran manusia.

Keimanan memiliki peran yang penting dalam ekonomi Islam, karena secara lang-sung dapat mempengaruhi pola dan panda-ngan hidup manusia. Beda dengan paham naturalis yang menempatkan sumber daya sebagai faktor terpenting atau paham monetaris yang menempatkan modal finan-sial sebagai yang terpenting. Didalam eko-nomi Islam sumber daya insani menjadi faktor terpenting. Manusia merupakan pusat sirkulasi manfaat ekonomi dari berbagai sumber daya yang ada.

Ekonomi Islam memberi penghargaan yang tinggi kepada orang kaya yang menda-patkan serta mengelola hartanya secara benar, namun juga sangat peduli untuk memberdayakan kaum miskin. Dalam hal ini Islam tidak pernah takut untuk menindak orang kaya yang tidak menunaikan hak-hak sosial dari hartanya serta menegur orang miskin yang malas dan selalu mengemis. Ini memperlihatkan bahwa sistem ekonomi Islam mengenal toleransi namun ekonomi Islam tidak mengenal kompromi dalam menegakkan keadilan.

 

2.       Definisi Ekonomi Islam Dan Karakteristiknya

Ekonomi Islam sesungguhnya bermuara kepada akidah Islam, yang bersumber dari Al Qur`an dan As-Sunnah. Oleh karena itu berbagai terminologi dan subtansi ekonomi yang sudah ada haruslah dibentuk dan disesuaikan terlebih dahulu dalam kerangka Islami.  Untuk mengartikan ekonomi Islam, harus kita lihat dari sudut ilmu dan juga dari sisi system.   Dari  sudut ilmu, ekonomi Islam merupakan pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi kerakyatan yang di ilhami oleh nilai-nilai Islam.

Dalam ekonomi Islam, kita tidaklah berada dalam kedudukan untuk mendis-tribusikan sumber-sumber daya semau kita. Karena didalam Islam, kesejahteraan sosial dapat dimaksimalkan jika sumber daya ekonomi juga dialokasikan sesuai dengan tuntunan syariat. Dengan kondisi ini tidak ada orang  lebih baik   dengan   menjadikan orang lain lebih buruk, ini artinya Islam tak mengenal zero sum games.

­­Merujuk kepada definisi sistem sebagai keseluruhan yang komplet atau bagian-bagian yang saling berhubungan dapat dikatakan bahwa ekonomi Islam adalah sebuah sistem, karena ia merupakan bagian dari suatu tata kehidupan yang lengkap.

Dalam Islam kegiatan ekonomi memiliki tujuan yang lebih tinggi yaitu kebahagian hidup di dunia dan kebahagian hidup di akhirat, dengan berupaya mewujudkan keadilan sosial ekonomi. Untuk lebih mudah kita pahami tentang definisi ekonomi Islam ada baiknya kita lihat pendapat para ahli, di antaranya :

1. Ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari masalah-masalah ekonomi masyarakat dalam perspektif nilai-nilai Islam  (Mannan, 1986, Halaman 18)

2. Ekonomi Islam adalah suatu upaya siste-matik untuk memahami masalah  ekono-mi dan perilaku manusia dari perspektif Islam (Ahmad,1992 Halaman 19 )

3. Ekonomi Islam merupakan studi mengenai representasi perilaku ekonomi umat Islam dalam suatu masyarakat  muslim  modern ( Naguy , 1994 Halaman 20 ) .

Dan banyak pendapat-pendapat lainya tentang ekonomi Islam, yang pada intinya semua pendapat itu merujuk kepada nilai-nilai Islam dengan bersumber kepada Al Qur`an dan Sunnah dengan tujuan menca-pai kebahagian duniawi dan ukhrawi.

Dari definisi yang tersebut, menunjuk-kan bahwa ekonomi Islam sangat berbeda dengan ekonomi konvensional. Ini artinya ekonomi Islam memiliki karakteristik yang khas yang tidak dimiliki oleh sistem ekonomi konvensional.

Hal ini karena sumber karakteristik ekonomi Islam adalah Islam itu sendiri. Yang meliputi tiga asas pokok. Ketiganya secara asasi dan  bersama mengatur teori ekonomi dalam Islam, yaitu asas akidah, akhlak dan mu`amalah.

Ada beberapa karakteristik ekonomi Islam seperti disebut dalam Al Mawsu`ah, Al Ilmiah wa al-amaliyah Al Islamiyah Yaitu;

1. Harta kepunyaan Allah dan manusia merupakan khalifah atas harta.

Dalam hal ini dapat diartikan bahwa semua harta yang ada di tangan manu-sia pada hakikatnya kepunyaan Allah, karena Dialah yang menciptakannya. Akan tetapi    Allah  memberikan  hak kepada manusia untuk memanfaat-kannya. Namun peman-faatannya tidak boleh bertentangan dengan kepenti-ngan orang lain. Jadi kepemilikan dalam Islam tidak mutlak.

2.Ekonomi terikat dengan akidah, syariah dan moral.

Yaitu setiap kegiatan ekonomi akan bernilai ibadah dengan mengikuti atu-ran yang telah di tetapkan dalam Islam.

3.keseimbangan antara kerohanian dan kebendaan.

Maksudnya adalah bahwa apa saja yang kita lakukan di dunia ini hakikatnya adalah untuk mencapai kebahagian akhirat.

4.Ekonomi Islam menciptakan keseimba-ngan antara kepentingan individu dengan kepentingan umum. Artinya kegiatan ekonomi yang dilaku-kan, seseoarang untuk mensejahtera-kan dirinya, tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan dan mengorban-kan kepentingan orang lain dan masya-rakat umum.

5.Kebebasan individu dijamin dalam Islam.

Dalam Islam diberikan kebebasan individu namun tidak boleh melanggar aturan-aturan Allah, dengan kata lain kebebasan tersebut sifatnya tidak mutlak.

6.Negara diberi wewenang turut campur dalam perekonomian.

Dalam Islam Negara berkewajiban melindungi kepentingan masyarakat dari ketidak adilan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok. Negara berkewajiban memberikan jaminan social agar seluruh masyarakat dapat hidup secara layak.

7.Bimbingan konsumsi.

Artinya didalam Islam ada ketentuan mana yang halal dan haram untuk dikonsumsi dan juga perilaku yang baik dan tidak baik.

8.Petunjuk investasi

Dalam Islam ada kriteria untuk dapat melakukan investasi yaitu ;

· Proyek yang baik menurut Islam

· Memberikan rezeki seluas mungkin kepada masyarakat

· Memberantas kekafiran, memperbaiki pendapatan dan kekayaan

· Memelihara dan menumbuh kembang-kan harta

· Melindungi kepentingan anggota masyarakat.

9. Zakat

Adalah karakteristik yang paling istimewa, karena tidak dimilki oleh sistem ekonomi konvensional. Dalam  hal ini ada konsep dalam harta kita ada hak orang lain dan harus kita sisihkan.

10. Larangan Riba

Dalam Islam sangat tegas dikatakan bahwa riba adalah haram. Untuk itu harus dihidupkan ekonomi pada sektor riil.

Dari paparan singkat karakteristik eko-nomi Islam dapat kita buat tabel perban-dingan antara sistem ekonomi kapitalis, sosialis dan Islam seperti tampak dalam tabel (lampiran)

Melihat karakteristik ekonomi Islam dan table dasar perbandingan ketiga system. Maka sangat berbeda diantara ketiganya, artinya ketika sistem yang ada memper-lihatkan kelemahannya maka sistem ekonomi Islam yang konprehensif akan menjadi alternatife untuk keluar dari permasalahan yang ada.

3. PERAN EKONOMI ISLAM

Masih segar dalam ingatan kita akhir tahun 90-an, krisis moneter melanda negara-negara Asia, Krisis moneter ini dipicu oleh spekulasi keturunan yahudi yaitu Goerge Soros memborong dolar. Akibat ulahnya ini membuat negara-negara yang sangat tergantung pada dolar akhirnya terpuruk. Thailand adalah negara pertama tumbal dari spekulan yahudi ini dan berkembang ke negara-negara kawasan lainya. Dari sekian banyak negara yang berimbas krisis moneter ini. Indonesia adalah negara yang paling parah mengalami krisis moneter.

Negara Thailand bisa bangkit dengan cepat, begitu juga dengan Malaysia yang berani menolak mentah-mentah bantuan dari IMF. Namun Indonesia yang katanya negara paling besar penduduknya beragama Islam, bisa dan mau didekte oleh lembaga bantuan buatan yahudi tersebut.

Tidak berlebihan rasanya jika dikatakan Indonesia sangat lemah dalam fondasi ekonominya. Indonesia tidak mau dikatakan menganut sistem kapitalis maupun sistem sosialis,  namun dalam  prakteknya  menga-

rah ke sistem kapitalis.  Padahal sebagai umat Islam terbesar didunia, kita harus berani menyatakan bahwa ekonomi Islam adalah yang terbaik, yang akan memberi keadilan dan kebaikan umat manusia.

Selama ini diakui atau tidak sistem kapitalis sangat mendominasi ekonomi dunia. Semua negara mendewakan ekonomi kapitalis yang di usung oleh tokoh-tokoh seperti Adam Smit, Keynes Freidman dan lainnya. Seiring perjalanan waktu terlihat jelas bahwa sitem kapitalis tidak membawa keadilan dan kemakmuran bersama. Alih-alih kemajuan, yang didapat malah keter-gantungan yang sangat besar kepada kepada negara-negara adidaya. Ini terbukti bahwa sistem kapitalis hanya memberi kesejahteraan kepada Amerika dan Negara-negara Eropa saja.

Walau sebagai poros sistem kapitalis, tahun 2008 Amerika diguncang krisis yang terimbas kepada dunia dan dikenal dengan krisis global. Sekali lagi ini menunjukan bahwa sistem kapitalis bukan yang terbaik.

Begitu juga dengan poros sistem sosialis yang menganut prinsip sama rasa sama rata, dimana hak-hak individu di abaikan. Negara-negara pengusung sistem sosialis malah lebih duluan hancur dibandingkan Negara-negara kapitalis. Uni soviet adalah manifestasi dari sosialis, sekarang hanya tinggal kenangan. Dan saat ini Negara-negara yang masih memakai sistem sosialis juga dilanda krisis dan mencoba menyesuaikan diri dengan zaman.

Dua sistem ekonomi yang selama ini dipakai terbukti memiliki kelemahan dan tidak bisa  mengatasi krisis. Lalu sebagai orang Islam masihkah kita tetap bertahan dengan sistem-sistem tersebut? Jika kedua sistem tersebut telah terbukti tidak sem-purna, marilah kita kembali kepada Islam yang memiliki sistem konfrehensif yang mengatur semua aspek, baik sosial,politik, ekonomi, maupun kehidupan yang bersifat spiritual ( Qs. An.nahl : 89 ).

Ekonomi Islam yang di bangun diatas empat filosofi yaitu tauhid, keadilan keseimbangan, kebebasan dan pertanggung jawaban menemukan momentum untuk mengambil peran untuk kembali menyele-saikan permasalahan ekonomi umat yang selama ini terkangkang dalam sistem eko-nomi konvensional yang sekuler ketika krisis moneter melanda dunia. Diakhir tahun 90-an dan krisis global tahun 2008.

Bahkan gerakan ekonomi Islam menam-pakkan banyak kemajuan sepanjang tahun 2000-an, Misalnya saja, jumlah lembaga keuangan dan perbankkan Islam terus bertambah dari tahun ke tahun dengan kontribusi ekonomi yang terus menunjukkan pertumbuhan yang relatif cepat. Juga pertumbuhan ekonomin Islam bahkan mengungguli pertumbuhan sistem konvensional. Kemajuan ini makin nampak menonjol karena sistem konvensional saat ini masih dalam keadaan lesu.

Pertumbuhan bank-bank syariah meng-identifikasikan bahwa kepercayaan manusia terhadap keunggulan ekonomi Islam semakin kuat. Semenjak tahun 1992 hanya berdiri satu bank syariah di Indonesia. Akhir tahun 2003 ada delapan bank lagi yang mulai menjalankan pola syariah.  Sedang-kan dalam tahun 2004 sedikitnya ada sembilan bank lagi yang mengikuti pola syariah. Ini sangat luar biasa bukan saja untuk Indonesia namun Dunia.

Menurut majalah The Banker, yang yang dikutip info bank, bank-bank syariah tidak hanya dimilki oleh negara muslim saja namun juga oleh negara non  muslim seperti USA, Kanada, Denmark, Australia, Singapura, United Kingdom. Sekali lagi ini menjelaskan bahwa ekonomi Islam adalah bersifat inklusif.

Seperti uraian diatas, dalam karak-teristik ekonomi Islam disebut bahwa salah satunya adalah zakat. Dalam Islam, zakat menduduki posisi yang sangat penting. Sehingga Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menyatakan: ”Amal seseorang tidak ber-manfaat, kecuali dia menegakkan Shalat dan menunaikan Zakat “.

Zakat ini merupakan institusi yang menjamin adanya distribusi kekayaan dari golongan orang kepada golongan yang tidak punya. Ini menunjukkan bahwa toleransi dalam hidup sangat tinggi. Artinya, jika zakat yang disalurkan kelapangan usaha produktif bagi kelompok masyarakat tidak mampu, maka akan dapat menekan tingkat pengangguran.

Namun hal ini semua tidak dapat dilaksanakan secara parsial, namun harus terorganisir dengan baik dan terencana dengan matang. Dengan pelaksanaan yang terencana maka kemakmuran masyarakat banyak akan tercapai.

Bila kita lihat dari dua instrumen ekonomi Islam yaitu, Zakat dan perbankan syariah yang sekarang ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat positif. Dapat dijelaskan bahwa peran ekonomi Islam dalam menyelesaikan masalah ekonomi modern sangat tinggi. Solusi-solusi yang ditawarkan dalam konsep Islam menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan keimanan. Sehingga keseimbangan hidup dapat tercapai.

4.  Penutup

Hidup akan terus berjalan seiring waktu, sebagai hamba kita diperintahkan untuk berikhtiar mempertahankan hidup dengan tetap berpegang kepada Al Qur`an dan Hadist.

Sudah seyogyanya kita menjalankan sistem ekonomi yang sesuai dengan syariah, kegagalan demi kegagalan sistem ekonomi yang dibuat manusia telah terpampang nyata didepan mata. Sistem ekonomi sosia-lis sudah hancur, sistem ekonomi kapitalis tinggal menunggu waktunya, belumkah kita tersadar?  Bahwa sistem ekonomi Islam adalahyang terbaik bagi kita. Untuk mencapai kebahagiaan Dunia an Akhirat. Dengan ekonomi Islam mengatasi masalah tanpa masalah.

Daftar Pustaka

Akhmad Mujahidin, DR.MAG. Ekonomi Islam. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta 2007

Sholahuddin M. Msi, SE , Asas–asas Ekonomi Islam PT Raja Grafindo Persada. Jakarta 2007

Mustafa Edwin Nasution, MSc, et al , Pengenalan Eklusif Ekonomi Islam. Kencana : Jakarta 2006

Wirdyaningsih , SH , MH, et al , Bank dan Asuransi Islam di Indonesia. Kencana : Jakarta 2005

Penulis :

 

Agus Irwanto, SE.

Lahir di Bireuen, pada 31 Agustus 1976

Dosen Unimus Matangglumpangdua Bireuen & STIE Kebangsaan Bireuen - Aceh

Saat ini sedang menyelesaikan S2 di Unsyiah Banda Aceh

 

 

 

 

 

Share